facebook page resmi kagama farmasi ugm Twitter Kagama Farmasi UGM

Home » Berita » Indonesia Menuju Green Pharmacy

Kamis, 03 Juli 2014 - 13:04:27

Indonesia Menuju Green Pharmacy

Diposting oleh : Administrator Web - Dibaca: 710 kali

Dunia farmasi saat ini berkembang sangat pesat. Saat ini, bidang farmasi yang meliputi industri farmasi, distributor, rumah sakit, apotek dan perguruan tinggi, mulai memperhatikan green pharmacy.

 

Demikian salah satu yang mengemuka dalam Konferensi Internasional Farmasi, bertajuk Pharmaceutical Development Toward a Sustainable and Healthy Society yang dihelat di Sheraton Mustika Yogyakarta, 18-19 Juni 2013.

 

Chairman Committee, Prof. Zullies Ikawati, Ph.D, Apt., mengatakan, konferensi yang digagas Fakultas Farmasi UGM menggandeng Universitiet Utrecht, Nara Institute of Technology Japan, Mahidol University Thailand, dan Cyberjaya University Malaysia ini, bertujuan menciptakan jejaring perkembangan ilmu dan teknologi farmasi juga memberi referensi untuk industri farmasi.

 

"Selain dipaparkan sejumlah riset penting dalam teknologi farmasi, kita juga mulai memikirkan green pharmacy atau farmasi ramah lingkungan, yang mencegah masuknya limbah farmasi ke dalam lingkungan," paparnya.

Zullies mengatakan, kegiatan bertaraf Internasional ini dihadiri oleh 350 peserta dari 10 negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Korea, China, Jepang, dan Australia.

"Antusiasme mereka sangat tinggi, tercatat 150 peserta melakukan presentasi oral dan 70 peserta presentasi poster. Partisipan berasal dari kalangan medis, peneliti, mahasiswa, juga kalangan industri farmasi," ujarnya.

 

Foto Bersama antara Pembicara dengan Panitia
 


Wakil Dekan Fakultas Farmasi, Prof. Agung Endro Nugroho, M.Si., Ph.D., Apt., menambahkan, kegiatan ini adalah media para pelaku bidang farmasi di seluruh dunia untuk saling bertukar hasil penelitian yang bisa diaplikasikan dalam industri farmasi.

 

"Industri farmasi saat ini sudah sangat maju di sejumlah negara. Disini kita mentransfer knwoledge dibidang farmasi dan para pelaku industri farmasi bisa mendapatkan referensi dari hasil penelitian," harapnya.

Menurut Boenjamin Setiawan, Founder and Scientific Adviser of Stem Cell an Cancer Institute, yang juga pendiri Kalbe Farma, industri farmasi saat ini menghadapi banyak tantangan seiring dengan perubahan.

 

Misalnya berakhirnya paten yang akan menurunkan income industri lebih dari $100 miliar dalam beberapa tahun ke depan. Kemudian rendahnya produktivitas research and development sementara biaya research makin mahal.

"Total biaya yang dihabiskan untuk menemukan satu obat baru mencapai $1.5 miliar. Industri farmasi dituntut menemukan cara yang lebih inovatif untuk mengembangkan industri ini," tukasnya.

Sumber : Tribun Jogja

Lustrum 2016

Alumni Member

Tentang Kagama Farmasi

Video Terbaru

Web Links

Statistik Web

1528922

Pengunjung hari ini : 324
Total pengunjung : 100304
Hits hari ini : 5559
Total Hits : 1528922